Kumpulan Tugas Kuliah, Semoga Bermanfaat :)

Minggu, 25 Mei 2014

Pengertian Nilai Tukar

BAB II
PEMBAHASAN MATERI

I.                   PENGERTIAN NILAI TUKAR

Pengertian – pengertian Nilai Tukar menurut beberapa ahli, yaitu sebagai berikut :
ü    Salvatore (1997:9) : Nilai tukar adalah Harga suatu mata uang terhadap mata uang lainnya atau nilai dari suatu mata uang terhadap nilai mata uang lainnya.
ü    Abimanyu4 : Nilai Tukar adalah harga mata uang suatu negara relatif terhadap mata uang negara lain. Karena nilai tukar ini mencakup dua mata uang, maka titik keseimbangannya ditentukan oleh sisi penawaran dan permintaan dari kedua mata uang tersebut.

 Dapat disimpulkan dari beberapa definisi diatas bahwa nilai tukar adalah sejumlah uang dari suatu mata uang tertentu yang dapat dipertukarkan dengan satu unit mata uang negara lain.
Kenaikan nilai tukar mata uang dalam negeri disebut apresiasi atas mata uang asing. Penurunan nilai tukar uang dalam negeri disebut depresiasi atas mata uang asing. Sedangkan, devaluasi merupakan kebijakan pemerintah untuk menurunkan nilai tukar  rupiah terhadap mata uang asing. Dan revaluasi adalah kebijakan pemerintah untuk menaikan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.


II.                FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NILAI TUKAR

Ada beberapa faktor utama yang mempengaruhi tinggi rendahnya nilai tukar mata uang dalam negeri terhadap mata uang asing. Faktor-faktor tersebut adalah :

a. Laju Inflasi Relatif
Dalam pasar valuta asing, perdagangan internasional baik dalam bentuk barang atau jasa menjadi dasar yang utama dalam pasar valuta asing, sehingga perubahan harga dalam negeri yang relatif terhadap harga luar negeri dipandang sebagai faktor yang mempengaruhi pergerakan kurs valuta asing. Misalnya, jika Amerika sebagai mitra dagang Indonesia mengalami tingkat inflasi yang cukup tinggi maka harga barang Amerika juga menjadi lebih tinggi, sehingga otomatis permintaan terhadap barang dagangan relatif mengalami penurunan.

b. Tingkat Pendapatan Relatif
Faktor lain yang mempengaruhi permintaan dan penawaran dalam pasar mata uang asing adalah laju pertumbuhan riil terhadap harga-harga luar negeri. Laju pertumbuhan riil dalam negeri diperkirakan akan melemahkan kurs mata uang asing. Sedangkan pendapatan riil dalam negeri akan meningkatkan permintaan valuta asing relatif dibandingkan dengan supply yang tersedia.



c. Suku Bunga Relatif
Kenaikan suku bunga mengakibatkan aktifitas dalam negeri menjadi lebih menarik bagi para penanam modal dalam negeri maupun luar negeri. Terjadinya penanaman modal cenderung mengakibatkan naiknya nilai mata uang yang semuanya tergantung pada besarnya perbedaan tingkat suku bunga di dalam dan di luar negeri, maka perlu dilihat mana yang lebih murah, di dalam atau di luar negeri. Dengan demikian sumber dari perbedaan itu akan menyebabkan terjadinya kenaikan kurs mata uang asing terhadap mata uang dalam negeri.

d. Kontrol Pemerintah
Menurut Madura (2003:114), bahwa kebijakan pemerintah bisa mempengaruhi keseimbangan nilai tukar dalam berbagai hal termasuk :
a. Usaha untuk menghindari hambatan nilai tukar valuta asing.
b. Usaha untuk menghindari hambatan perdagangan luar negeri.
c. Melakukan intervensi di pasar uang yaitu dengan menjual dan membeli mata uang.
Alasan pemerintah untuk melakukan intervensi di pasar uang adalah:
1. Untuk memperlancar perubahan dari nilai tukar uang domestik yang bersangkutan.
2. Untuk membuat kondisi nilai tukar domestik di dalam batas-batas yang ditentukan.
3. Tanggapan atas gangguan yang bersifat sementara.
d. Berpengaruh terhadap variabel makro seperti inflasi, tingkat suku bunga dan tingkat pendapatan.
e. Ekspektasi
Faktor kelima yang mempengaruhi nilai tukar valuta asing adalah ekspektasi atau nilai tukar di masa depan. Sama seperti pasar keuangan yang lain, pasar valas bereaksi cepat terhadap setiap berita yang memiliki dampak ke depan. Dan sebagai contoh, berita mengenai bakal melonjaknya inflasi di AS mungkin bisa menyebabkan pedagang valas menjual Dollar, karena memperkirakan nilai Dollar akan menurun di masa depan. Reaksi langsung akan menekan nilai tukar Dollar dalam pasar.

Kemudian menurut Madura (2003:111-123), untuk menentukan perubahan nilai tukar antar mata uang suatu negara dipengaruhi oleh beberapa faktor yang terjadi di negara yang bersangkutan yaitu selisih tingkat inflasi, selisih tingkat suku bunga, selisih tingkat pertumbuhan GDP, intervensi pemerintah di pasar valuta asing dan expectations (perkiraan pasar atas nilai mata uang yang akan datang).











III.             SISTEM NILAI TUKAR

Sistem nilai tukar yang ditentukan oleh pemerintah, ada beberapa jenis, antara lain:
a. Fixed exchange rate system.
Sistem nilai tukar yang ditahan secara tahap oleh pemerintah atau berfluktuasi di dalam batas yang sangat sempit. Jika nilai tukar berubah terlalu besar, maka pemerintah akan mengintervensi untuk memeliharanya dalam batas-batas yang dikehendaki.
b. Freely floating exchange rate system.
Sistem nilai tukar yang ditentukan oleh tekanan pasar tanpa intervensi dari pemerintah.
c. Managed floating exchange rate system.
Sistem nilai tukar yang terletak diantara fixed system dan freely floating, tetapi mempunyai kesamaan dengan fixed exchange system, yaitu pemerintah bisa melakukan intervensi untuk menjaga supaya nilai mata uang tidak berubah terlalu banyak dan tetap dalam arah tertentu. Sedangkan bedanya dengan free floating, managed float masih lebih fleksibel terhadap suatu mata uang. Lalu menurut Krugman dan Obstfeld (2000:485), managed floating exchange rate system adalah sebuah sistem dimana pemerintah mengatur perubahan nilai tukar tanpa bermaksud untuk membuat nilai tukar dalam kondisi tetap.
d. Pegged exchange rate system.
Sistem nilai tukar dimana nilai tukar mata uang domestik dipatok secara tetap terhadap mata uang asing.

IV.             FLUKTUASI DALAM NILAI TUKAR

Nilai tukar yang berdasarkan pada kekuatan pasar akan selalu berubah disetiap kali nilai-nilai salah satu dari dua komponen mata uang berubah. Sebuah mata uang akan cenderung menjadi lebih berharga bila permintaan menjadi lebih besar dari pasokan yang tersedia. nilai akan menjadi berkurang bila permintaan kurang dari suplai yang tersedia.
Peningkatan permintaan terhadap mata uang adalah yang terbaik karena dengan meningkatnya permintaan untuk transaksi uang, atau mungkin adanya peningkatan permintaan uang yang spekulatif. Transaksi permintaan uang akan sangat berhubungan dengan tingkat aktivitas bisnis negara berkaitan, produk domestik bruto (PDB) (gross domestic product (GDP) atau gross domestic income (GDI)) , dan tingkat permintaan pekerja. Semakin tinggi tingkat menganggur pada suatu negara akan semakin sedikit masyarakatnya yang secara keseluruhan akan dapat menghabiskan uang pada belanja pengeluaran untuk pembelian barang dan jasa dan Bank Sentral, di Indonesia dalam hal ini dilakukan oleh Bank Indonesia biasanya akan sedikit kesulitan dalam melakukan penyesuaian pasokan uang yang dalam persediaan untuk mengakomodasi perubahan dalam permintaan uang berkaitan dengan transaksi bisnis.
Dalam mengatasi permintaan uang dengan tujuan untuk spekulatif, Bank Sentral akan sangat sulit untuk mengakomodasinya akan tetapi akan selalu mencoba untuk melakukan dengan melakukan penyesuaian tingkat suku bunga agar seseorang Investor dapat memilih untuk membeli kembali mata uangnya bila (yaitu suku bunga) cukup tinggi, akan tetapi, dengan semakin tinggi sebuah negara menaikan suku bunganya maka kebutuhan untuk mata uangnya akan semakin besar pula. Dalam hal perlakuan tindakan spekulasi terhadap realitas mata uang akan berkaitan dan dapat menghambat pada pertumbuhan perekonomian negara serta para pelaku spekulasi akan terus, terutama sejak mata uang secara sengaja dibuat agar bisa dalam bawah tekanan terhadap mata uang dalam rangka untuk memaksa agar Bank Sentral dapat menjual mata uangnya untuk tetap membuat stabilitas (bila hal ini terjadi maka para spekulan akan berusaha dapat membeli kembali mata uang tersebut dari bank dan pada harga yang lebih rendah atau selalu akan dekat dengan posisi harapan dengan demikian pengambilan keuntungan terjadi).











V.                PERKEMBANGAN NILAI TUKAR
         Nilai     tukar    rupiah     riil  setelah   diterapkannya        sitem    nilai   tukar mengambang terus   mengalami   mengalami   tekanan   yang   cukup   kuat   sampai  akhir 1997. Mulai Januari 1998 cenderung fluktuatif. Secara umum, nilai tukar  riil  tahun    2005   merosot     apabila   dibandingkan      dengan    tahun 2004.    Hal    ini  tercermin   dari   rata-rata   indeks   nilai   tukar   riil   efektif   (Real   Effective   Exchange  Rate/REER)        pada   tahun    2004   sebesar   33,83,   sedangkan     tahun    2005  menjadi  31,96, atau mengalami kemerosotan sebesar 5,5 persen.

Gambar 1. Indeks       Nilai Tukar Rupiah Terhadap US$ Tahun 1997 s/d 2005
(Agustus 1997 = 100)
 









Pada awal tahun 2000, kondisi kurs rupiah telah mulai recovery dari krisis September   1997   yaitu   sebesar   Rp7.400.   Puncak   krisis   nilai   tukar   terjadi   pada  sekitar   Juni   1998,   dimana   nilai   tukar   rupiah   terhadap   dolar   lebih   besar   dari  Rp14.000.   Kemudian   setelah   dilakukan   berbagai   kebijakan   pemerintah   dalam  mengatasi nilai tukar, antara lain: penandatanganan LOI (hutang LN) terhadap  IMF, kebijakan uang ketat (peningkatan suku bunga) dan pembekuan beberapa  bank,   maka   nilai   tukar   rupiah   menguat   ke   level   Rp8.000-an.   Kondisi   tersebut  didukung oleh perubahan kepemimpinan politik kepada Habibie yang membawa harapan     bagi   pelaku    pasar.  Kondisi    tersebut    bertahan    dengan    fluktuasi   yang  relatif tipis sampai pada era Gus Dur.
Namun   selama   tahun   2000,   kondisi   kurs   mengalami   pelemahan,   dibuka  pada   level   Rp7.425   pada   bulan   Januari   2000   dan   berangsur-angsur   meningkat mencapai   angka   Rp9.500   per   dolar   Amerika.   Bahkan   kondisi   ini   berlanjut   di tahun 2001, puncaknya mencapai level Rp11.675 pada bulan April 2001. Sempat  menguat sampai ke level Rp8.865 per dolar Amerika pada Agustus 2001 namun  kembali      melemah      ke   level  Rp10.400-an      sampai    dengan    akhir    tahun    2001.
Sehingga   dapat   dikatakan   bahwa   dalam   periode   ini   kurs   rupiah   terhadap   dolar Amerika kembali bergejolak walaupun masih terkendali. Hal ini terjadi karena pemerintah       sedang    mencari    formulasi    yang   tepat   untuk    mengatasi     berbagai tuntutan     recovery    perekonomian. Selain   itu,  kondisi    politik   juga   kembali bergolak   dengan   adanya   pergantian   kepemimpinan   nasional   dari   Gus   Dur   ke Megawati.
        Dalam tahun 2002 rupiah cenderung menguat sejak awal tahun dan sempat diperdagangkan   pada   sekitar   Rp8.500-an  per   dolar   AS   pada   pertengahan   Juni 2002.   Selama   tahun   2002   rata-rata   nilai tukar   rupiah   sebesar   Rp9.311   per   dolar  AS.
Selain    itu  faktor   eksternal   juga   mempengaruhi       penguatan     nilai  tukar   rupiah  terhadap dolar AS, yaitu menurunnya suku bunga fed fund , gejala melemahnya  dolar AS dalam skala global; dan menguatnya nilai tukar regional dalam tahun  2002.   Penguatan   nilai   tukar   rupiah   selama   tahun   2002   berlanjut   sampai   pada  akhir   tahun   2003.   Selama   tahun   2003,   nilai   tukar   rupiah   berada   pada   kisaran  Rp8.285 – Rp8.900.
Namun sejak awal tahun 2004 sampai semester pertama tahun 2005, nilai tukar   rupiah   terhadap   dolar   AS   menunjukkan   kecenderungan   melemah   secara fluktuatif.    Nilai   terendah    nilai  tukar    rupiah   terjadi   dalam    bulan   Juli   2005  (Rp9.800/dolar   AS)   dan   nilai   tukar   rupiah   tertinggi   terjadi   pada   bulan   Januari 2004 (Rp8.384/dolar AS).       
 Fluktuasi yang tinggi terjadi dalam periode April 2004  –   Agustus   2004,   hal   ini   terkait   dengan  kekhawatiran   pelaku   pasar   uang   atas  penyelenggaraan Pemilu 2004.
Trend pergerakan Kurs Rupiah cenderung melemah terhadap USD selama 2004 sampai dengan pertengahan 2005.
Sehingga   jika   diikhtisarkan   perkembangan   nilai   tukar   rupiah   terhadap  dollar Amerika selama kurun waktu Januari 2000 sampai dengan Juni 2005, nilai tukar   rupiah   mengalami   fluktuasi   selebar   Rp4.250   atau   dalam   rentang   Rp7.425  pada Januari 2000 (nilai terendah) dan Rp11.675 pada April 2001 (nilai tertinggi). Selama   rentang   tersebut   nilai   tukar   rupiah   terhadap   dollar   AS   rata-rata   sebesar Rp9.153.

Gambar 2. Perkembangan Nilai Tukar Rupiah Terhadap US$ Kurun
Waktu Tahun 2000 – 2005
 




Tidak ada komentar:

Posting Komentar